Selamat Datang di Blog Saya

Halo pembaca semua, saya harap Anda menikmati apa yang saya ketik. Mudah-mudahan informasi tersebut berguna dan bermanfaat bagi Anda pembaca semuanya.

Salam Kenal ☜☠☞

Minggu, 22 Oktober 2017

Acara Adat Pernikahan Batak Toba

Acara Adat Pernikahan Batak Toba
     Pada umumnya sepasang kekasih yang sudah saling mengenal dan cocok satu sama lain ingin melanjutkan hubungannya ke tahap yang berikutnya. Tahap tersebut yaitu pernikahan. Pernikahan adalah dambaan setiap pasangan kekasih yang sudah serius dalam menjalani hubungan. Menikah ialah dimana sepasang kekasih saling mengucap janji suci untuk mengikarkan hubungan mereka kedalam sebuah rumah tangga yang akan mereka jalani untuk kedepannya.
     Pernikahan pada umumnya dilakukan secara agama, kemudian dapat dirayakan juga dengan perayaan pesta resepsi pernikahan. Berbagai macam resepsi pernikahan yang ada di dunia ini. Di Indonesia sendiri karena terdapat banyak sekali adat suku dan budaya maka terdapat berbagai macam acara adat pernikahan. Artikel kali ini akan membahas tentang adat pernikahan Batak Toba yang telah dirangkum dari berbagai sumber. Berikut tata cara pernikahan adat batak toba :

A. Marsibuhai – buhai
     Ini adalah langkah awal dalam acara pernikahan adat batak. Pagi hari sebelum dimulai pemberkatan/ catatan sipil/ pesta adat, acara dimulai dengan penjemputan mempelai wanita di rumah disertai dengan makan pagi bersama dan berdoa untuk kelangsungan pesta pernikahan, biasanya disini ada penyerahan bunga oleh mempelai pria dan pemasangan bunga oleh mempelai wanita dilanjutkan dengan penyerahan Tudu-tudu Ni Sipanganon dan Menyerahkan dengke lalu makan bersama, selanjutmya berangkat menuju tempat pemberkatan pernikahan sang mempelai.
     Dalam adat batak ada beberapa sebutan atau istilah batak :
1.Suhut, kedua pihak yang punya hajatan
2.Parboru, orang tua pengenten perempuan=Bona ni haushuton
3.Paranak, orang tua pengenten Pria= Suhut Bolon.
4.Suhut Bolahan amak: Suhut yang menjadi tuan rumah dimana acara adat di selenggrakan.
5.Suhut naniambangan, suhut yang datang.
6.Hula-hula, saudara laki-laki dari isteri masing-masing suhut.
7.Dongan Tubu, semua saudara laki masing-masing suhut.
8.Boru, semua yang isterinya semarga dengan marga kedua suhut.
9.Dongan sahuta, arti harafiah “teman sekampung” semua yang tinggal dalam huta/ kampung komunitas (daerah tertentu) yang sama paradaton/ solupnya.
10.Ale-ale, sahabat yang diundang bukan berdasarkan garis persaudaraan (kekerabatan atau silsilah).
11.Uduran, rombongan masing-masing suhut, maupun rombongan masing-masing hula-hulanya.
12.Raja Parhata (RP), Protokol (PR) atau Juru Bicara (JB) masing-masing suhut, juru bicara yang ditetapkan masing-masing pihak.
13.Namargoar, Tanda Makanan Adat , bagian-bagian tubuh hewan yang dipotong yang menandakan makanan adat itu adalah dari satu hewan (lembu/ kerbau) yang utuh, yang nantinya dibagikan.
14.Jambar, namargoar yang dibagikan kepada yang berhak, sebagai legitimasi dan fungsi keberadaannya dalan acara adat itu.
15.Dalihan Na Tolu (DNT), terjemahan harafiah”Tungku Nan Tiga” satu sistim kekerabatan dan way of life masyarakat Adat Batak.
16.Solup, takaran beras dari bambu yang dipakai sebagai analogi paradaton, yang bermakna dihuta imana acara adat batak diadakan solup/paradaton dari huta itulah yang dipakai sebagai rujukan, atau disebut dengan hukum tradisi “sidapot solup do na ro”.

B. Prosesi Masuk Tempat Acara Adat
     Pada proses kali ini kita ambil contoh di rumah mempelai wanita. Ada juga istilah atau sebutan bagi penatua dalam acara adat. Berikut sebutan atau istilahnya :
· Raja Parhata/ Protokol Pihak Perempuan= PRW
· Raja Parhata/ Protokol Pihak Laki-laki = PRP
· Suhut Pihak Wanita = SW
· Suhut Pihak Pria = SP

Berikut Adalah Tata Acara :
– PRW meminta semua dongan tubu/semaraganya bersiap untuk menyambut dan menerima kedatangan rombongan hula-hula dan tulang.
– PRW memberi tahu kepada Hula-hula, bahwa SP sudah siap menyambut dan menerima kedatangan Hula-hula.
– Setelah hula-hula mengatakan mereka sudah siap untuk masuk, PRW mempersilakan masuk dengan menyebut satu persatu, hula-hula dan tulangnya secara berurutan sesuai urutan rombongan masuk.
1. Hula – Hula
2. Tulang
3. Bona Tulang
4. Tulang Rorobot
5. Bonaniari
6. Hula – Hula Namarhahaanggi
a. …
b. …
c. …dst
7. Hula – Hula anak na manjae

C. Menerima Kedatangan Suhut Paranak
     Setelah seluruh rombongan hula-hula dan tulang dari SW duduk, rombongan Paranak/SP dipersilakan memasuki ruangan. PRW, memberitahu bahwa tempat untuk SP dan uduran/rombongannya sudah disediakan dan SW sudah siap menerima kedatangan mereka beserta Hula-hula , Tulang SP dan uduran/rombongannya
     PRP menyampaikan kepada dongan tubu, bahwa sudah ada permintaan dari Parboru agar mereka memasuki ruangan.
     Kepada hula-hula dan tulang (disebutkan satu perasatu) yaitu:
– Hula – hula
– Tulang
– Bona tulang
– Tulang rorobot
– Bonaniari
– Hula – hula namarhaha – maranggi
a. …
b. …
c. Dst
– Hula – hula anak manjae
     PRP memohon, sesuai permintaan hula-hula SW agar mereka masuk bersama-sama dengan SP. Untuk itu tatacara dan urutan memasuki ruangan diatur, pertama adalah Uduran/rombongan SP& Borunya, disusul Hula-hula….., Tulang…..dan seterusnya sesuai urut-urutan yang telah dibacakan PR (Dibacakan sekali lagi kalau sudah mulai masuk).

D. Menyerahkan Tanda Makanan Adat
     Penyerahan makanan adat ini dalam bahasa batak dinamakan Tudu – Tudu ni Sipanganon. Tanda makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (tanggalan), rusuk melingkar (somba-somba), pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan jantung ditempatkan dalam baskom/ ember besar.
      Tanda makanan adat diserahkan SP beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP, diserahkan kepada SW dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan mengatakan walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya semoga ia tetap membawa manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang menyantap nya, sambil menyebut bahasa adat/ umpasa :
“Sitiktikma si gompa. Golang – golang pangarahutna. Tung so sadia (otik) pe naung pinatupa. Sai godangma pinasuna.”

E. Menyerahkan Dengke (Ikan) oleh SW
     Aslinya ikan yang diberikan adalah jenis “ihan” atau ikan Batak, sejenis ikan yang hanya hidup di Danau Toba dan sungai Asahan bagian hulu dan rasanya memang manis dan khas. Ikan ini mempunyai sifat hidup di air yang jernih (tio) dan kalau berenang/ berjalan selalu beriringan (mudur-udur) , karena itu disebut ; dengke sitio-tio, dengke si mudur-udur (ikan yang hidup jernih dan selalu beriringan/ berjalan beriringan bersama)
    Simbol inilah yang menjadi harapan kepada pengantin dan keluarganya yaitu seia sekata beriringan dan murah rejeki (tio pancarian dohot pangomoan).
     Tetapi sekarang ihan sudah sangat sulit didapat, dan jenis ikan mas sudah biasa digunakan. Ikan Masa ini dimasak khasa Batak yang disebut “naniarsik” ikan yang dimasak (direbus) dengan bumbu tertentu sampai airnya berkurang pada kadar tertentu dan bumbunya sudah meresap kedalam daging ikan itu.

F. Makan Bersama
     Sebelum bersantap makan, terlebih dahulu berdoa dari suhut Pria (SP), karena pada dasarnya SP yang membawa makanan itu walaupun acara adatnya di tempat SW.
      Untuk kata pengantar makan, PRP menyampaikan satu uppasa (ungkapan adat) dalam bahasa Batak seperti waktu menyerahakan tanda makanan adat:
     Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna. Tung, sosadiape napinatupa on, sai godangma pinasuna. Ungkapan ini menggambarkan kerendahan hati yang memebawa makanan dengan mengatakan walaupun makanan yang dihidangkan tidak seberapa (pada hal hewan yang diptong yang menjadi santapan adalah hewan lembu atau kerbau yang utuh), tetapi mengharapkan agar semua dapat menikmatinya serta membawa berkat. Kemudian PRP mempersilakan bersantap.
     Setelah acara makan bersama, ada acara penyerahan ulos oleh pihak perempuan. Dalam Adat Batak tradisi lama atau religi lama, ulos merupakan sarana penting bagi hula-hula, untuk menyatakan atau menyalurkan sahala atau berkatnya kepada borunya, disamping ikan, beras dan kata-kata berkat. Pada waktu pembuatannya ulos dianggap sudah mempunyai “kuasa”.
     Karena itu, pemberian ulos, baik yang memberi maupun yang menerimanya tidak sembarang orang , harus mempunyai alur tertentu, antara lain adalah dari Hula-hula kepada borunya, orang tua kepada anank-anaknya. Dengan pemahaman iman yang dianut sekarang, ulos tidak mempunyai nilai magis lagi sehingga ia sebagai simbol dalam pelaksaan acara adat. Ujung dari ulos selalu banyak rambunya sehingga disebut “ulos siganjang/sigodang rambu”(Rambu, benang di ujung ulos yang dibiarkan terurai).

Pemberian Ulos sesuai maknanya adalah sebagai berikut:
A. Ulos Namarhadohoan
No Uraian Yang Menerima Keterangan :

A Kepada Paranak
1. Pasamot/Pansamot Orang tua pengenten pria
2. Hela Pengenten
    Partodoan/Suhi Ampang Naopat
1. Pamarai Kakak/ Adik dari ayah pengenten pria
2. Simanggokkon Kakak/ Adik dari pengenten pria
3. Namborunya Saudra perempuan dari ayah penganten pria
4. Sihunti Ampang Kakak/ Adik perempuan dari penganten pria

B. Ulos Kepada Pengantin

No. Uraian Yang Mangulosi :
A Dari Parboru/Partodoan
1. Pamarai 1 lembar, wajib Kakak/ Adik dari ayah pengenten wanita
2. Simandokkon Kakak/ Adik laki-laki dari pengenten wanita
3. Namborunya (Parorot) Iboto dari ayah pengantin wanita
4. Pariban Kakak/ Adik dari pengantin wanita

B Hula-hula dan Tulang Parboru
1. Hula-hula 1 lembar, wajib
2. Tulang 1 lembar, wajib
3. Bona Tulang 1 lembar, wajib
4. Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib

C Hula-hula dan Tulang Paranak
1. Hula-hula 1 lembar, wajib
2. Tulang 1 lembar, wajib
3. Bona Tulang 1 lembar, wajib

4. Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib

Tahap Perkawinan Adat Batak Toba

Tahap Perkawinan Adat Batak Toba
Berikut sedikit ulasan mengenai urut-urutan pra sampai pasca pernikahan adat Na Gok :

1. Mangarisika
     Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding / Marhusip
     Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot
     Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta
     Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :
Kerabat marga ibu (hula-hula)
Kerabat marga ayah (dongan tubu)
Anggota marga menantu (boru)
Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
     Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.

5. Martumpol (baca : Martuppol)
     Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja / Maria Raja
     Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk mempersiapkan  kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis.
     Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
     Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)

8. Pesta Unjuk
     Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di Ampang (dialap jual)
     Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual
     Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria  (Daulat ni si Panganon)
     Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru

12. Paulak Unea
     Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan). Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.

13. Manjahea
     Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)

     Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).

Kelahiran Dalam Suku Batak Toba

Kelahiran Dalam Suku Batak Toba

A. Mangirdak
     Dalam suku batak apabila seorang putra batak menikah dengan dengan seorang perempuan baik dari suku yang sama maupun yang beda, ada beberapa aturan atau kebiasaan yang harus dilaksanakan. Sebagai contoh, seorang putra batak yang bermarga Pardede menikah maka sudah merupakan kebiasaan jika orangtua dari istri disertai rombongan dari kaum kerabat datang menjenguk putrinya dengan membawa makanan ala kadarnya ketika menjelang kelahiran, hal kunjungan ini disebut dengan istilah Mangirdak (membangkitkan semangat). Makna spiritualitas yang terkandung adalah kewibawaan dari seorang anak laki-laki dan menunjukkan perhatian dari orangtua si perempuan dalam memberikan semangat.

B. Pemberian Ulos Tondi
     Ada juga kerabat yang datang itu dengan melilitkan selembar ulos yang dinamakan ulos tondi (ulos yang menguatkan jiwa ke tubuh si putri dan suaminya). Pemberian ulos ini dilakukan setelah acara makan. Makna spiritualitas yang terkandung adalah adanya keyakinan bahwa pemberian ulos ini dapat memberikan ataupun menguatkan jiwa kepada suami istri yang baru saja mempunyai kebahagiaan dengan adanya kelahiran.

C. Mengharoani
     Sesudah lahir anak-anak yang dinanti-nantikan itu, ada kalanya diadakan lagi makan bersama ala kadarnya di rumah keluarga yang berbahagia itu yang dikenal dengan istilah mengharoani (menyambut tibanya sang anak). Ada juga yang menyebutnya dengan istilah mamboan aek si unte karena pihak hula-hula membawa makanan yang akan memperlancar air susu sang ibu. Makna spiritualitas yang terkandung adalah yaitu menunjukkan kedekatan dari hula-hula terhadap si anak yang baru lahir dan juga terhadap si ibu maupun ayah dari si anak itu.

D. Martutu Aek
     Pada hari ketujuh setelah bayi lahir, bayi tersebut dibawa ke pancur dan dimandikan dan dalam acara inilah sekaligus pembuatan nama yang dikenal dengan pesta Martutu Aek yang dipimpin oleh pimpinan agama saat itu yaitu Ulu Punguan. Hal ini telah ditentukan oleh sibaso tersebut dan dilakukan pada waktu pagi-pagi waktu matahari terbit kemudian sang ibu menggendong anaknya yang pergi bersama-sama dengan rombongan para kerabatnya menuju ke suatu mata air dekat kampung mereka.
     Setelah sampai disana, bayi dibaringkan dalam keadaan telanjang dengan alaskan kain ulos. Kemudian sibaso menceduk air lalu menuangkannya ke tubuh si anak, yang terkejut karenanya dan menjerit tiba-tiba. Melalui ritus ini, keluarga menyampaikan persembahan kepada dewa-dewa terutama dewi air Boru Saniang Naga yang merupakan representasi kuasa Mulajadi Nabolon dan roh-roh leluhur untuk menyucikan si bayi dan menjauhkannya dari kuasa-kuasa jahat sekaligus meminta agar semakin banyak bayi yang dilahirkan (gabe).
     Upacara martutu aek biasanya dilanjutkan dengan membawa si bayi ke pekan (maronan, mebang). Kita tahu pada zaman dahulu pekan atau pasar (onan) terjadi satu kali seminggu. Onan adalah symbol pusat kehidupan dan keramaian sekaligus symbol kedamaian. Orangtua si bayi akan membawa bayi ke tempat itu dan sengaja membeli lepat (lapet) atau pisang di pasar dan membagi-bagikan kepada orang yang dikenalnya sebagai tanda syukur dan sukacitanya. Pada acara marhata sesudah makan, maka diumumkan lah nama si bayi.
     Bila anak yang lahir ini adalah anak pertama maka sudah biasa bila ada pemberian sawah oleh orangtua serta mertua untuk modal kerja . Namun pada saat pemberian nama pada waktu itu, peran dari sibaso sangat besar karena keluarga meminta rekomendasi sibaso untuk sebuah nama, jika sibaso tidak menyetujui nama yang dianggapnya tidak baik maka orangtua dari si bayi pun akan mengganti nama itu.
     Makna spiritualitas yang terkandung adalah memberikan kekuatan kepada tubuh si anak yang lahir dimana dengan adanya persembahan-persembahan kepada dewi air Boru saniang naga sehingga si anak kelak mempunyai daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah terserang penyakit.

E. Mengallang Esek-esek
     Keluarga yang mendapat anak ini akan mempunyai kebahagiaan yang luar biasa dimana untuk menunjukkan kebahgiaan itu, pihak keluarga akan memotong ayam dan memasak nasi kemudian memanggil para tetangga sekaligus kerabat walaupun tengah malam ataupun dini hari untuk diundang makan atau syukuran (hal ini dibantu dengan tidakan demonstrative ayah si anak dengan membelah kayu pada saat kelahiran dimana warga kampung akan segera tahu dengan pertanda itu).
     Kemudian ibu-ibu sekampung pun segera berdatangan dengan anak-anak mereka, ini juga bagian dari Mangallang Haroan atau mengharoani (menikmati makanan kedatangan). Kalau didaerah Silindung disebut mangallang indahan esek-esek. Jamuan ini biasanya hanya bersifat apa adanya, misalnya jika tidak ada ayam maka sayur labu siam dan ikan asin pun jadi karena mangharoani ini sebagai ungkapan sukacita yang spontan dan tulus dari suatu komunitas yang saling mengasihi atas kehidupan baru. Sementara itu selama tiga malam, para bapak bergadang atau ”melek-lekkan” sambil berjudi. Ini dilakukan bertjuan untuk menjaga si bayi dan ibunya dari kemungkinan ancaman kepada si bayi dan ibunya karena setelah melahirkan tubuh si ibu dan si bayi pastilah masih sangat rentan atau lemah.
     Makna spiritualitas yang terkandung adalah sebagai ungkapan sukacita terhadap warga yang sekampung dengan si anak yang baru lahir itu sehingga warga kampung tahu ada kebahagiaan dalam suatu keluarga.

Minggu, 08 Oktober 2017

Pembuatan Digital Cinema Dengan Cinema 4D

Penggunaan efek maupun penambahan animasi 3 dimensi pada suatu film dapat membuat film tersebut menjadi spesial, hal ini dikarenakan penonton dapat melihat penggunaan animasi yang beradu akting dengan manusia. Penggunaan animasi dalam suatu film membutuhkan suatu program untuk membentuk animasi tersebut, salah satunya adalah Cinema 4D


Logo dari Cinema 4D

Cinema 4D adalah pemodelan 3D, animasi, grafis gerak dan aplikasi rendering yang dikembangkan oleh MAXON Computer GmbH di Jerman. Hal ini mampu membuat pemodelan prosedural dan poligonal, animasi, pencahayaan, tekstur, rendering, dan fitur umum yang ditemukan dalam aplikasi pemodelan 3D. 

Beberapa fitur yang disediakan didalam Cinema 4D
A. Pada Modeling
    • Polygonal Modeling
Ø      Knife Tool
Ø      Polygon Pen
·         Parametic Modeling
Ø      Modeling with MoGraph
Ø      Modeling with Deformers
Ø      Modeling with Splines
·         Sculpting
Ø      Organize in Layers
Ø      Flexible Tools
Ø      Mirror and Masking
Ø      Base Meshes
Ø      Mesh Projection
Ø      Unsubdivide
Ø      Baking 

B. Pada Texturing
    • Material / Shaders
Ø      Reflectance channel
Ø      Flexible Shaders
Ø      Infinite possibilities
·         3D Painting
Ø      BodyPaint 3D
Ø      Projection Man
Ø      Modeling with Splines

C. Pada Animation
    • Overview
Ø      Timeline
Ø      Flexible User Interface
Ø      Procedural Animation
·         Character Animation
Ø      Advanced Character Animation
Ø      Interaction Tag
Ø      Pose Morph
·         MoGraph
Ø      Cloner
Ø      Voronoi Fracturing
Ø      Dynamics
    • Simulation
Ø      Dynamics
Ø      Additional Tools
Ø      Cloth Simulation
Ø      Thinking Particles

D. Pada Rendering
    • Overview
Ø      Physical Renderer
Ø      External Renderer
Ø      Sketch and Toon
Ø      Stereoscopic Rendering
Ø      Team Render
·         Lightning
Ø      IES Lights
Ø      Physical Sky
Ø      Modeling with Splines 

E. Pada General Workflow
    • Content Browser
Ø      Materials
Ø      Substance Engine Integration
Ø      Objects
·         Take System
Ø      Render Layers
Ø      Material Replacement
Ø      Change Camera Angles
Ø      Animation Variations
·         Trackings
Ø      Camera Tracking
Ø      Object Tracking
Ø      Camera Calibrator

Kelebihan program Cinema 4D adalah  motion tracking (memungkinkan untuk para pengguna mengatur posisi model yang diinginkan dalam sebuah footage atau video yang diambil sebelumnya atau menambahkan object baru didalam video tersebut), adanya expression atau simulasi/simulation tags (tools untuk mensimulasikan sebuah object seperti rambut, pakaian, angin, api, udara, air, dll yang bisa digunakan dengan mudah), terdapat banyak plugin yang tersedia untuk memaksimalkan kinerja dari software ini seperti untuk me-Render, Simulation Tags, dll, serta bisa mentransfer file ke software lain seperti ke Adobe After Effects untuk menciptakan kesan yang lebih realistik pada pengeditan di after effects.

Sementara itu kekurangan dari program Cinema 4D adalah merupakan software berlisensi (tidak open source seperti blender) dengan harga yang cukup mahal, tutorial penggunaan Cinema 4D sulit ditemukan.  Kekurangan dari Cinema 4D dibandingkan 3D Max atau Maya adalah pada char animationnya. Pada v11 mulai ada feature non linear animation. Untuk setup animasi Max jauh lebih unggul dan cepat. Masalah render pada Cinema 4D default rendernya lebih bagus daripada default render Max. Tapi bila Max memakai Plugin seperti Brazil, Vray, MentalRay(included) Hasil nya Max lebih cepat dan lebih halus. Kisaran harga Cinema 4D kurang lebih sama dengan Max (original).

Berikut ini adalah gambaran dari Cinema 4D dalam membuat suatu objek :

Pembuatan animasi kapal terbang pada Cinema 4D

Pembuatan animasi ruang makan pada Cinema 4D

Pembuatan animasi rantai sepede pada Cinema 4D

Pembuatan animasi istana pada Cinema 4D

Sistem yang direkomendasikan untuk menjalankan program Cinema 4D adalah
  • OS: Windows 7 SP1 64 bit /8/10, MacOs 10.11.6 / 10.12.4
  • CPU : Intel Core i5 @ 2.3 Ghz Processor atau AMD A10 @ 2.4 Ghz Processor dengan dukungan teknologi SSE3
  • Ram: 4 GB (Direkomendasikan 8 GB)
  • Graphics: Kartu grafis NVIDIA atau AMD dengan kapasitas memory 4 GB GPU rendering, dengan dukungan OpenCL 1.2 atau versi diatasnya
  • Storage : Kapasitas sebesar 7GB
  • Port USB
  • Mouse dan Keyboard

Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Cinema_4D
https://www.maxon.net/en-us/products/cinema-4d/overview/
dioid.blogspot.co.id/2015/08/maxon-animasi-ini-bioskop-maxon-daftar.html